Generasi Millenial, Tantangan Hebat dalam Pembentukan Karakter Bangsa
Istilah generasi millenial
sedang akrab terdengar dan sangat populer saat ini. Generasi ini banyak
diperbincangkan, mulai dari segi pendidikan, moral dan budaya. Produk teknologi
akan mengikuti gaya hidup masyarakat pergeseran perilaku turut berubah
beriringan dengan teknologi. Salah satu teknologi yang paling berpengaruh dalam
hal ini adalah gadget. Bayangkan saja, berita yang masuk terkait permasalahan
tiap negara dengan mudahnya tersebar melalui internet, media sosial, maupun
aplikasi berbasis internet lainnya dalam satu perangkat. Proses mendunianya seluruh kehidupan
sosial, ekonomi, politik hingga budaya antara satu negara dengan negara lainnya
hingga seluruh dunia dinyatakan seakan-akan tidak memiliki batas.
Gadget sebagai salah satu
tanda generasi millenial telah memberikan pengaruh yang luar biasa dalam
kehidupan manusia di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dapat diketahui
bersama bahwa diantara kalangan generasi muda Indonesia telah mengenal dan
menggunakan internet dalam keseharian mereka. Namun kebanyakan dari mereka
belum mampu untuk memilah antara aktivitas internet yang bersifat posistif dan
negatif, serta cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka dalam
penggunaannya. Hal inilah yang sering dikeluhkan oleh masyarakat. Generasi muda
bangsa yang seharusnya menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul
dengan perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Sebagian besar
masyarakat terutama generasi muda telah terpengaruh oleh budaya barat sehingga
sadar ataupun tak sadar menyebabkan semakin terkikisnya jati diri dan karakter
mereka sebagai warga negara Indonesia.
Karakter bangsa merupakan
aspek penting dari kualitas sumber daya manusia karena turut menentukan
kemajuan suatu bangsa. Bangsa Indonesia mempunyai cita-cita untuk menjadi
bangsa yang besar, kuat, berdaya, disegani oleh bangsa lain. Cita-cita bangsa
yang tertuang dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945 ini dapat terwujud apabila
bangsa Indonesia menanamkan karakter yang baik atau karakter yang berasal dari
nilai-nilai luhur yang ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Karakter yang
perlu ditanamkan antara lain rasa cinta terhadap Tuhan Yang Maha Esa, jujur,
disiplin, sopan, tanggung jawab, keadilan dan kepemimpinan, amanah, mandiri,
hormat dan santun, kasih sayang, peduli, kerja sama, percaya diri, kreatif,
kerja keras dan pantang menyerah, baik dan rendah hati, toleransi serta cinta
damai.
Pernah membaca gagasan
“Revolusi Mental” yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada
Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. “Revolusi Mental” adalah suatu
gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang
berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang
menyala-nyala. Setelah 74 tahun bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan, sesungguhnya
perjuangan itu belum, dan tak akan pernah berakhir. Kita semua masih harus
melakukan revolusi, namun dalam arti yang berbeda. Bukan lagi mengangkat
senjata, tapi membangun jiwa bangsa, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan
perilaku (membangun karakter bangsa).
Membangun karakter
generasi muda pada era millenial ini tak semudah membalikkan telapak tangan.
Hal ini tentunya dapat dijelaskan oleh adanya kenyataan-kenyataan yang telah
digambarkan di atas. Sehingga dapat dikatakan bahwa membangun karakter bangsa
dalam era generasi millenial saat ini merupakan suatu tantangan terhebat. Salah
satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui proses pendidikan yang
diterapkan di sekolah-sekolah terutama dalam kegiatan belajar mengajar di
kelas. Dan tentunya yang memiliki peran penting dalam hal ini adalah seorang
guru. Ada beberapa hal yang mungkin perlu dilaksanakan oleh seorang guru sebagai
pembangun karakter peserta didik generasi millenial ketika melaksanakan
pembelajaran di kelas. Pertama, saat
memulai pembelajaran, selain memberikan motivasi guru juga perlu memberikan
inspirasi yang dituangkan baik melalui cerita maupun pemutaran video dari
berbagai sumber dan tokoh ternama. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan
kepercayaan diri, kesadaran diri, dan motivasi belajar mereka. Kedua, Mengajak peserta didik
berdiskusi tentang topik-topik teraktual agar mereka selalu sigap menanggapi
sesuai pemikiran mereka sehingga bijak dalam memilah berita yang asli maupun
hoax. Ketiga, menyelipkan
pesan-pesan moral pada setiap pembelajaran dan meminta peserta didik untuk
mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah bijak dalam
penggunaan handphone. Ini bermaksud agar peserta didik selalu mawas diri dalam
menjalani kehidupan.
Selain itu, dalam mendidik seorang anak dibutuhkan
kerjasama yang baik dan bersinergi antara sekolah dengan orang tua, agar dapat
maksimal dalam membentuk kecerdasan anak dan karakter khususnya. Jika orang tua
di rumah berusaha dengan baik dalam mendidik anak-anaknya, begitupun seorang
guru juga serius dan bertanggung jawab dalam mengemban amanah yang diberikan
oleh orang tua peserta didik, maka sudah pasti cita-cita untuk memiliki
generasi yang berkualitas dan berkarakter akan tercapai.
Oleh Karena itu, pendidikan
yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula. Apabila sumber
daya manusia telah baik, maka masa depan generasi milenial khususnya, dan
negara Indonesia pada umumnya, akan cerah dan bisa bersaing dengan
negara-negara maju lainnya. Pendidikan karakter bukan hanya tugas guru di sekolah
dan orang tua di rumah, namun tanggung jawab kita bersama dalam pergaulan
masyarakat. Pentingnya pendidikan karakter saat ini untuk membangun masa depan
yang cemerlang kepada generasi muda, bangsa, dan negara Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar